Nuffnang Advertise

Jumat, 01 Januari 2010

Senin, 28 Desember 2009

IF TOMORROW STARTS WITHOUT ME


If tomorrow starts without me,
And I’m not there to see,
If the sun should rise and find your eyes
All filled with tears for me;
I wish so much you wouldn’t cry
The way you did today,
While thinking of the many things,
We didn’t get to say.
I know how much you love me,
As much as I love you,
And each time that you think of me,
I know you’ll miss me too;
But when tomorrow starts without me,
Please try to understand,
That an angel came and called my name,
And took me by the hand,
And said my place was ready,
In heaven far above,
And that I’d have to leave behind
All those I dearly love.
But as I turned to walk away,
A tear fell from my eye,
For all my life, I’d always thought,
I didn’t want to die.
I had so much to live for,
So much left yet to do,
It seemed almost impossible,
That I was leaving you.
I thought of all the yesterdays,
The good ones and the bad,
I thought of all that we shared,
And all the fun we had.


If I could relive yesterday,
Just even for a while,
I’d say good-bye and kiss you
And maybe see you smile.
But then I fully realized,
That this could never be,
For emptiness and memories,
Would take the place of me.
And when I thought of worldly things,
I might miss some tomorrow,
I thought of you, and when I did,
My heart was filled with sorrow.
But when I walked through heaven’s gates,
I felt so much at home.
When God looked down and smiled at me,
From His great golden throne,
He said, “This is eternity,
And all I’ve promised you.”
Today your life on earth is past,
But here life starts anew.
I promise no tomorrow,
But today will always last,
And since each day is the same way,
There’s no longing for the past.
So when tomorrow starts without me,
Don’t think we’re far apart,
For every time you think of me,
I’m right here, in your heart “

Sabtu, 26 Desember 2009

Sebelum aku Mati

Aku sering berkunjung ke pemakaman. Baik itu untuk tujuan berziarah ke makam orang-orang yang telah dipanggil lebih dahulu, atau Cuma sekedar mencium wewangian kamboja yang semerbak di tanahnya. Semasa kecilku pun aku gemar berkunjung kesana. Dengan tanpa rasa takut kulompati Nisan-nisan yang diam membisu itu. Bahkan tak jarang kududuki satu-dua nisan yang bentuknya kukhayalkan sebagai seekor kuda. Aku serasa jadi ksatria berpedang dengan kuda kesayangannya tengah di medan perang. Aku senang menerbangkan layang-layangku di kompleks pemakaman. Kata orang sih angker. Tapi kataku di pemakaman ini banyak angin, jadi layang-layangku bisa mengangkasa dengan cepat. Ketika beranjak dewasapun aku tak bisa menghilangkan kebiasaan ini. Ketika ada tetangga atau kerabat yang meninggal dan hendak dikebumikan, entah kenapa senyuman mengembang di bibirku. Bukannya senyuman yang menunjukkan kebencianku pada orang mati itu. Tapi senyuman kegembiraan karena sebentar lagi aku akan turut menghantarnya menuju rumah masa depan sekaligus kediamannya di masa datang. Dengan penuh semangat diriku akan mengiring jenazah itu menuju kuburan. Begitu menginjakkan kaki di tanahnya. Aku akan memandang sekeliling, sekitar yang nampaknya sunyi, senyap. Kawanan burung gagak bersiul seraya bercengkerama di sudut. Ada beberapa gundukan tanah yang masih berwarna merah dan belum ditumbuhi rumput tanda penghuninya baru saja mengkapling jatah kediamannya. Ketika jenazah yang kuiring mulai diturunkan ke liang lahatnya, tanpa henti aku terus menatapnya, aku tak mau melewatkan satu momenpun. Mengerdipkan kelopakpun aku enggan. Dalam hati aku ucapkan perpisahan sekaligus selamat kepadanya. Selamat jalan wahai yang telah pergi, semoga kau dapatkan tempat yang lebih baik disana. Semoga kau diterima di sisi-NYA. Juga kuhaturkan selamat padamu, selamat karena kau lebih dulu meninggalkan dunia yang penuh kebohongan serta menjenuhkan ini. Pasti kau sungguh senang bisa meninggalkan permukaan bumi nan penuh benci ini, lalu kau bisa terbaring dengan tenang di dalam bumi, tanpa takut dilindas kesombongan sesama. Oh ya, apa disana kira-kira ada kantor pos? seandainya kau sudah menemukannya, jangan lupa kirim surat buatku. Ceritakan segala yang terjadi didalam sana. Kalau perlu berilah uang lebih pada sang kurir gaib biar suratnya cepat sampai. Selamat jalan, sampai jumpa. Sang jenazah telah tertimbun tanah. Bunga-bunga bertabur diatas gundukannya, semua orang termasuk keluarga almarhum telah meninggalkan pemakaman. Tinggal aku sendiri, aku dan banyak nisan serta para penghuninya. Seraya menatapi luasnya, aku mulai berpikir, merenung dan membayangkan. Ah, suatu saat nanti aku akan jadi salah satu penghuninya. Aku tak sabar menanti datangnya jatahku. Aku ingin segera jadi bagian dari mereka. Tapi, kupikir-pikir lagi nanti dulu. Masih banyak yang belum kulakukan. Sebelum aku mati, aku masih memimpikan banyak hal, aku masih ingin memberikan sesuatu kepada orang-orang yang kusayangi. Sebelum aku mati aku ingin…


Celaka, kematianku telah mendekat. Aku yakin bahwa ajal akan segera menjemputku. Aku tak bisa menjelaskan darimana aku mendapatkan berita ini. Tapi sepertinya perasaanku yang mengatakan bahwasanya mati akan segera menyergapku. Dari segala arah mata angin, dari langit, dari bawah bumi, dari mana-mana kematian bisa saja segera memeluk jasadku. Oh, tidak bagaimana ini? Bukannya aku hendak menolak ajal. Aku pasrah dan rela jika memang saatnya telah tiba. Tapi aku masih ingin melakukan banyak hal, aku masih muda dan juga enerjik. Aku masih dibutuhkan khalayak. Aku baru berumur 20 tahun. Masih perjaka ting-ting. Kematian, kenapa kau harus datang begitu cepat? Tunggulah barang beberapa tahun lagi, biar aku beruban dan wajahku keriput dahulu. Sekali lagi aku sulit mempercayainya, memang tak ada yang bisa memastikan bahwa hari ini atau esok kematian akan datang. Tapi sepertinya perasaanku kali ini bisa dipercaya. Aku memang akan segera mati. Jadi aku harus segera menyelesaikan yang belum terselesaikan, mengakhiri apa yang belum berakhir, serta membagikan segalanya sesuatu yang belum sempat kubagikan. Waktuku amat sempit, aku harus bergegas. Masih banyak tugas yang harus kujalankan. Baiklah, wahai sang ajal, jikalau memang kau hendak jemput aku sekarang. Beri aku kesempatan, aku butuh waktu untuk mengucapkan salam perpisahan pada dunia.


Aku telah meninggalkan kompleks perkuburan itu. Kini aku terduduk lunglai di kamar. Badanku serasa lemas dan otakku terasa kosong hampa. Bukannya karena takut akan datangnya mati, aku siap menghadapinya. Justru kematian telah lama kutunggu-tunggu. Cuma yang jadi masalah kenapa harus secepat ini? Saat ini aku belum menjelajah dunia sama sekali. Namun biar bagaimana kematian tak bisa ditawar lagi. Ya sudah, aku pasrah. Ok, aku sadar waktuku tak banyak. Degup jantungku serasa berpacu dengan hembusan angin. Diusiaku yang masih muda, banyak yang belum kuketahui dan belum kulakukan. Sebisa mungkin harus tercapai semua yang tadinya belum bisa tercapai.


Sebelum aku mati, aku harus membagi-bagikan semua milikku. Biar orang-orang terus mengenangku saat mereka menatap dan menyentuh barang-barang pemberianku. Semua yang hendak kubagikan mulai kukumpulkan. Dari barang-barang yang bersifat remeh sampai yang amat berharga. Buku-buku koleksi novelku akan kuserahkan buat si Citra yang kutu buku itu. Tas punggung dan juga alat-alat tulisku, emm, mendingan kuberikan pada joni. Tetangga sebelah yang masih duduk dibangku kelas 6 SD. Ia pasti sangat senang memperoleh tas baru namun seken ini. Oh iya, kaset-kaset Nirvana dari album pertama sampai terakhir. Benda yang paling berharga menurutku. Satu keputusan yang cukup sulit, hendak kuberikan pada siapa? Sosok yang akan menerimanya harus seseorang yang benar-benar cinta musik dan menganut paham idealisme. Biar ia bisa merawat kaset-kaset yang lumayan langka ini. Aha, tentu saja. Tak salah lagi, Veri. Ia adalah anak band. Pasti ia akan dengan sangat senang hati menerima pemberianku. Waduh, masih banyak yang harus kubagikan, masih banyak yang harus kulakukan. Tapi waktuku semakin sempit. Aku musti bergegas. Keringat dingin mulai bertetesan dari dahiku. Jantung berdegup lebih kencang, aku takut tak bisa menyelesaikan kewajibanku tepat pada waktunya. Lagi-lagi aku memohon padamu wahai sang ajal. Ulurlah waktu, sebelum aku mati aku ingin memulai apa yang belum kumulai. Ah, semua barang kepunyaanku takkan selesai kubagikan. Lebih baik keseluruhannya kukumpulkan saja dalam kardus, lalu kuberi catatan surat wasiat agar supaya isi didalamnya diserahkan kepanti asuhan. Lalu kira-kira apalagi yang harus kulakukan. Wah, rasa-rasanya selama aku hidup aku jarang beramal. Aku sering merasa iba menatap anak-anak kumal dipinggir jalanan yang menadahkan tangan. Tapi aku Cuma sebatas iba, dan jarang memberi rupiah pada mereka. Disaat-saat terakhir ini aku harus beramal, aku harus menyumbangkan uangku yang terbatas buat bocah-bocah yatim-piatu. Segera kuraih Telepon genggam di meja. Kucek pulsa yang tersisa, sisa pulsa yang anda miliki adalah senilai dua puluh lima ribu tiga ratus lima puluh rupiah . tinggal segitu sisa pulsaku. Aku ingat kalau operator selularku punya program infak lewat pengurangan pulsa. Sisa pulsaku kuhabiskan, kukirimkan untuk infak via SMS. Sudah cukup, aku sudah beramal.


Badanku lemas sekali, tulang-tulang serasa bergemeretakkan. Waktunya hampir tiba pikirku. Terlalu banyak yang belum kukerjakan. Sebelum mati aku ingin mencicipi sate ayam Cak Amat terlebih dahulu. Satenya paling terkenal di daerahku karena dibakar sempurna. Dengan bumbu kacang yang sedap menggoda. Sebelum mati aku juga ingin mengirim E-mail buat Angelina jolie. Aku hendak menyatakan kekagumanku padanya terkait aktingnya di Tomb raider yang luar biasa. Oh tidak, lalu bagaimana dengan teman-teman Chattingku? Mereka akan kehilangan Co-keren jika aku tak berpamitan. Setelah kuhitung-hitung dan kukalkulasikan lagi. Serta mengambil segala resiko yang terjadi, aku memutuskan waktunya masih cukup. Sebelum sang ajal datang aku masih sempat melakoni semuanya. Aku berkejar-kejaran dengan mati, menuju tempat mangkal Cak Amat. Memesan sate ayam spesial 10 tusuk plus es teh. Kemudian lari ke Cybernet login ke Yahoo, menulis e-mail singkat ke Anjelina jolie. Mengirim Offline messagges dengan isi ‘aku pergi meninggalkan dunia, selamat tinggal’ lalu kukirim kepada semua teman-teman chat-ku di seluruh penjuru dunia. kemudian Tak lupa kukembalikan kartu member-ku pada penunggu warnet sekalian pamitan padanya yang mana membuat ia mengerutkan dahi sekaligus terheran-heran saat aku bilang aku akan meninggalkan dunia ‘tuk selama-lamanya. Waktu terus berputar, jantungku makin hebat berdetak. Mengapa jantungku berdetak, berdetaknya lebih kencang seperti genderang mau perang.1 Aku keluar dari ruangan warnet, menatap indahnya dunia, merasakan hembusan angin yang sepertinya akan jadi angin terakhir yang bisa menyentuh kulitku karena didalam sana pasti sedikit pengap dan tak ada lubang anginnya. Aku merasa sudah amat siap kini, sebelum aku mati aku telah laksanakan semua kewajiban, telah kumulai apa yang harus kumulai, dan telah kuakhiri apa yang harus berakhir. Serasa damai menyelubungi kalbu. Kematian hendak menjemputku secara pelan dan mengendap-endap. Tapi kok rasanya seperti masih ada yang mengganjal di hati, tapi apa ya? Rasa-rasanya masih ada yang tertinggal. Ada sesuatu hal yang terasa amat penting dan belum kuselesaikan. Kupikir dan kutelaah lagi jejak-jejak memori di otak. Ku jelajah segala rasa di hati dan mampuslah aku. Mampuslah aku walau pada kenyataannya aku memang akan segera mampus nanti. Ada masalah besar, aku lupa. Teramat lupa dan aku merutuki diriku sendiri kenapa aku bisa lupa. Aku belum menyatakan cintaku pada Bunga. Gadis yang 6 bulan belakangan ini membuatku susah tidur. Aku terus memendam perasaan cintaku karena aku menganggap waktunya belum tepat dan masih banyak hari esok untuk menyatakannya. Penyesalan memang datangnya belakangan. Perasaanku mengatakan ’Kau akan segera mati, waktumu telah tiba.’ Tidak, aku belum mau mati. Aku tak mau mati tanpa cinta, jelas-jelas sang ajal mendekat mengendap-endap hendak menyergapku dari belakang. Dan aku berlari, berlari sekencang mungkin mencari Bunga. Ini hari Senin. Bunga pasti tengah duduk di meja kelasnya menerima mata kuliah ekonomi yang di sampaikan Pak Soebagyo. Aku berlari menumpang angin, tak peduli semua orang menatapku dengan pandangan mereka. Ah mungkin mereka heran melihatku berlari-lari di tengah hari yang panas ini. Atau bisa jadi dan sangat mungkin mereka iba karena melihat aku tengah dikejar-kejar sang ajal yang menguntitku dari belakang. Mereka juga bisa melihatnya, orang-orangpun melihat kematian mendekatiku. Aku terus berlari, kampus tempatku dan Bunga menuntut ilmu sudah terlihat didepan mata. Bunga tunggu aku, aku akan menyatakan cinta padamu. Rasa yang terus kupendam ini akan kuutarakan padamu. Bersiaplah Bunga, terimalah cintaku. Aku mengelap dahiku yang telah bersimbah peluh. Seraya berlari aku menoleh kebelakang, kutilik siapa tahu sang ajal telah sangat dekat. Dengan kaki yang terus melangkah berlari, aku mencari-cari. Mana kira-kira sang ajal? Terlalu lama aku menoleh kebelakang sampai tiba-tiba….Guuuubbrraaaakkk….Sepeda motor bebek itu menabrakku. Aku terpelanting dan terjatuh di jalan raya. Aku terbaring diantara kehidupan dan kematian. Orang-orang mengerumuniku, termasuk sang pengendara motor. Dan lagi-lagi mereka Cuma menatapku dengan tatapan itu. Antara heran karena aku berlari dengan menolehkan muka kebelakang, atau bisa jadi iba karena mereka melihat sang ajal sedang memeluk diriku. Oh, sia-sia semuanya. Aku akan menjadi makhluk yang mati tanpa cinta. Selamat tinggal Bunga, maafkan aku karena aku tak sempat nyatakan cinta padamu. Kau adalah yang terindah dihatiku. aku akan pergi. Pergi jauh, meninggalkan dunia. Haha, aku tersenyum di tengah kerumunan orang-orang yang mengelilingiku. Aku akan segera terkubur dalam bumi. Ditimbun tanah yang dicangkul para penjaga kuburan. Sang ajal mendekat, terus mendekat, aku menggigit bibirku berharap bisa mengurangi kepanikan dalam jiwa dan diriku. Sudah sangat dekat sang mati, ah, padahal sebelum aku mati aku ingin menyatakan cintaku pada Bunga terlebih dahulu. Biar aku tak mati tanpa cinta. Tapi terlambat, sang ajal amat dekat, ia ada dihadapanku kini, sesungging senyum kecil menggantung di bibirku. Aku pergi, selamat tinggal dunia, aku peerrrgggiiii……”Le, cah bagus. Bangun Le, sudah siang iki lho. Kan kamu harus kuliah. Sayang kan kalau sampe enggak masuk kuliah. Wis awan le, ayo bangun-bangun!”

“Iya Bu”


Aku masih rajin mengunjungi pemakaman. Walaupun kini usiaku telah uzur dan berbau tanah. Aku mengunjungi pemakaman secara rutin, entah demi berziarah, mengirimkan doa serta penghormatan bagi mereka yang telah lebih dahulu dipanggil, atau untuk mencium wewangian Bunga kamboja yang berguguran dipinggiran kompleks pemakaman. Atau sekedar melihat keriangan anak-anak yang bermain layang-layang disana. Aku mengunjungi pemakaman agar supaya aku ingat mati, mati yang tak tentu kapan menggenggam ragaku. Kematian yang semoga terus menjagaku agar jadi makhluk yang arif nan bijaksana sampai ku menutup mata. Masih tersisa senyuman di bibir wajahku yang mengeriput. Aku menerawang jauh kedalam kalbu. Takutkah aku dengan mati? Ngerikah aku dengan Keputusan-NYA? Anak-anak yang tengah bermain layang-layang itu terlihat amat gembira. Aku mendekat pada mereka, “Nak, bolehkah Bapak pinjam layang-layangnya sebentar?” “ini Pak” layang-layang itu diserahkan padaku. Aku coba menerbangkannya. Sebelum aku mati, aku ingin menerbangkan layang-layang ke angkasa. Haha, aku jadi ingat ketika kecil dulu aku selalu jadi juara adu layang-layang di pemakaman ini. Sebelum aku mati, aku ingin jadi juara lagi.
 Bunga Cuma Inisial = Aja... Koq...
***


advertisement